#Prestasi

Ekonomi

Tim PKM-K Universitas Negeri Malang Tangkap Peluang Pasar White Sneakers Melalui Inovasi WHISH

Di tengah tren penggunaan white sneakers yang terus meningkat di Indonesia, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Negeri Malang (UM) melihat peluang yang belum banyak digarap, yakni produk perawatan harian yang praktis untuk menjaga sepatu tetap bersih dan terhindar dari kekuningan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim menghadirkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), inovasi tisu ramah lingkungan yang dikembangkan sebagai solusi daily after care bagi pengguna sepatu putih. Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, mengatakan bahwa pengembangan WHISH diawali bukan dari pembuatan produk, melainkan dari proses memahami perilaku dan kebutuhan konsumen. "Kami melihat semakin banyak masyarakat, khususnya mahasiswa, menggunakan sepatu putih dalam aktivitas sehari-hari. Namun, sebagian besar baru membersihkan sepatu ketika sudah sangat kotor atau mulai menguning. Dari situ kami melihat adanya kebutuhan terhadap produk yang dapat digunakan secara rutin setelah sepatu dipakai," ujarnya. Sebelum menentukan formulasi produk, tim melakukan validasi pasar melalui survei terhadap 127 pengguna white sneakers. Hasilnya menunjukkan bahwa 84,3 persen responden menggunakan sepatu putih tiga hingga lima kali setiap minggu, 81,1 persen pernah mengalami masalah noda dan kekuningan, sedangkan 95,3 persen menyatakan tertarik menggunakan WHISH apabila tersedia di pasaran. Selain itu, 90,5 persen responden memilih tisu basah sebagai bentuk perawatan sepatu yang paling praktis. Hasil tersebut memperkuat keyakinan tim bahwa produk yang dikembangkan memiliki peluang pasar yang besar. Berbekal hasil riset tersebut, tim kemudian mengembangkan WHISH sebagai tisu daily after care yang membantu membersihkan noda ringan sekaligus mencegah terbentuknya kekuningan melalui perawatan rutin. Berbeda dengan produk shoe care yang umumnya berfokus pada deep cleaning, WHISH dirancang untuk digunakan segera setelah sepatu dipakai sehingga kotoran tidak sempat menumpuk dan memicu proses oksidasi yang menyebabkan warna sepatu berubah menjadi kekuningan. WHISH dikembangkan oleh Sekar Wahyu Ningtyas (S1 Pendidikan Bisnis) bersama Ervina Mei Ananda Putri (S1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S1 Pendidikan Kimia), dan Kharisma Putri Ambarwati (S1 Pendidikan Bisnis). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menghasilkan produk yang mengombinasikan inovasi bahan alami, teknologi, dan pendekatan kewirausahaan. Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan serat ampas tebu sebagai bahan dasar tisu yang bersifat biodegradable, ekstrak kulit lemon dari limbah industri minuman yang diformulasikan menggunakan teknologi nanoenkapsulasi, serta biosurfaktan alami dari lidah buaya untuk membantu mengangkat noda pada permukaan sepatu. Kombinasi tersebut menjadikan WHISH aman digunakan pada berbagai material white sneakers, seperti PU leather, PVC leather, microfiber leather, serta bagian midsole berbahan EVA, PU, dan TPU. Saat ini WHISH dipasarkan dalam kemasan box berisi 8 sachet, dengan setiap sachet berisi 2 lembar tisu, dan dijual seharga Rp30.000. Untuk menjangkau konsumen, tim memadukan pemasaran secara luring melalui Car Free Day (CFD), bazar, dan pameran kewirausahaan dengan pemasaran digital melalui Instagram, TikTok, Shopee, Tokopedia, serta WhatsApp Business. Strategi tersebut telah menghasilkan penjualan 69 box, memperluas kerja sama dengan tiga toko sepatu dan tiga jasa shoe laundry, serta membangun jangkauan media sosial hingga 1.176 pengikut. Menurut Sekar, pengalaman mengembangkan WHISH membuktikan bahwa inovasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. "Melalui PKM-K, kami belajar bahwa sebuah inovasi harus memiliki manfaat nyata bagi konsumen. Karena itu, setiap keputusan dalam pengembangan WHISH, mulai dari formulasi hingga strategi pemasaran, selalu didasarkan pada hasil riset dan kebutuhan pengguna," katanya. Dengan dukungan Universitas Negeri Malang, Tim PKM-K berharap WHISH dapat terus berkembang menjadi produk perawatan sepatu karya mahasiswa yang mampu bersaing di pasar nasional. Inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.  

WHISH5 menit
Pendidikan

Jawab Kebutuhan Sport Fishing, Mahasiswa UM Kembangkan Tas Penyimpanan Ikan Berbasis Sabut Kelapa

Meningkatnya tren olahraga memancing (sport fishing) mendorong kebutuhan akan perlengkapan yang mampu menjaga kualitas hasil tangkapan. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan HUSKIVA BAG, tas penyimpanan ikan berbasis sabut kelapa yang dilengkapi teknologi insulasi termal berlapis.   Berdasarkan data Spherical Insights (2025), pasar perlengkapan sport fishing dunia diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai USD 27,83 miliar pada 2035. Seiring meningkatnya aktivitas memancing, kebutuhan akan media penyimpanan ikan yang praktis dan mampu menjaga kesegaran hasil tangkapan juga semakin besar.   Sport Fishing umumnya menghabiskan waktu hingga sembulan jam dalam satu perjalanan memancing. Selama itu, ikan perlu disimpan pada suhu rendah agar kualitasnya tetap terjaga. Namun, banyak pemancing masih mengandalkan kotak styrofoam yang mudah retak, kurang praktis dibawa, dan kemampuan menjaga suhu dinginnya berkurang ketika es mulai mencair.   Berangkat dari permasalahan tersebut, HUSKIVA BAG dikembangkan sebagai alternatif media penyimpanan ikan yang lebih praktis. Produk ini memanfaatkan sabut kelapa sebagai bahan insulasi yang dipadukan dengan teknologi insulasi termal berlapis untuk membantu menjaga suhu penyimpanan tetap stabil selama perjalanan.   Inovasi ini dikembangkan oleh Ulfa Nur Azizah dan Devita Nisa Pravita Sari dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Nur Hayati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Mega Pita Pramudyah dari Fakultas Sastra (FS), serta Tiara Yunita Rachman dari Fakultas Vokasi (FV). Seluruh proses pembuatan produk mendapat pendampingan Ibu Dyah Palupi Rohmiati, M.Pd.   Ketua tim, Ulfa Nur Azizah, mengatakan bahwa HUSKIVA BAG dirancang untuk memberikan solusi bagi para pemancing yang membutuhkan wadah penyimpanan ikan yang praktis sekaligus mampu menjaga kesegaran hasil tangkapan selama perjalanan.   "Kami ingin HUSKIVA BAG tidak hanya menjadi hasil karya mahasiswa, tetapi juga benar-benar bermanfaat bagi para pemancing. Harapannya, produk ini dapat membantu menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus memberikan kemudahan saat dibawa bepergian," ujar Ulfa.   Ke depan, tim akan terus menyempurnakan desain, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas pemasaran agar HUSKIVA BAG dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat. Informasi mengenai HUSKIVA BAG dapat diikuti melalui Instagram @huskiva.bag dan Facebook Tashuskiva.

ULFA NUR4 menit
Saintek

Mahasiswa UIN Malang Raih Silver Medal Nasional Lewat Inovasi Obat Kumur Ramah Lingkungan Berbasis Limbah Organik

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Tim mahasiswa berhasil meraih Silver Medal dalam ajang lomba esai nasional bidang kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (UNDIP). Tim tersebut terdiri atas Adhil Hadi Muhammad, Hilma Agusstya, Meri Tri Jayanti, Muhammad Fahim Tamimul Himam, dan Satrio Gorby Maulana dengan bimbingan apt. Mayu Rahmayanti, S.Farm., M.Sc.Mereka mengusung karya inovatif berjudul “Eco-Enzyme Revolution: Inovasi Obat Kumur Alami Berbasis Limbah Organik sebagai Solusi Berkelanjutan bagi Kesehatan Mulut”. Melalui karya tersebut, tim menawarkan solusi inovatif terhadap dua permasalahan yang kerap dihadapi masyarakat, yakni tingginya angka gangguan kesehatan gigi dan mulut serta meningkatnya limbah organik rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ketua tim, Adhil Hadi Muhammad, menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari fakta masih tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Di sisi lain, limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bernilai guna tinggi melalui proses fermentasi menjadi eco-enzyme. “Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik tidak hanya dapat mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku produk kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam esainya, tim mengkaji berbagai penelitian terkini yang menunjukkan bahwa eco-enzyme mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, serta asam organik yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap mikroorganisme penyebab gangguan kesehatan rongga mulut, khususnya Streptococcus mutans yang berperan dalam pembentukan karies gigi. Konsep yang diusulkan mengembangkan eco-enzyme menjadi obat kumur alami yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Selain berfungsi sebagai antiseptik oral, inovasi tersebut juga mendukung prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah. Menurut tim, pengembangan produk ini berpotensi mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga yakni Good Health and Well-being atau kehidupan sehat dan sejahtera. Dengan biaya produksi yang relatif rendah dan bahan baku yang mudah diperoleh, inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap perawatan kesehatan mulut yang lebih ramah lingkungan. Keberhasilan meraih Silver Medal menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mampu berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga dapat menghadirkan gagasan inovatif yang menjawab berbagai tantangan kesehatan dan lingkungan secara bersamaan. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, melakukan riset, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

ADHIL HADI MUHAMMAD4 menit
Hukum

Dosen FH UMM Masuk dalam 100 Akademisi Terbaik Dunia Versi MeasuresHE

Sholahuddin Al-Fatih, dosen dan peneliti FH UMM, berhasil dinobatkan sebagai salah satu dari 100 akademisi terbaik dunia dalam kategori Ilmu Sosial oleh measuresHE. Pemeringkatan global bergengsi ini tidak lagi menggunakan metrik berbasis volume tradisional, melainkan berfokus pada identifikasi Jangkar Intelektual, para peneliti yang karyanya menjadi fondasi penting bagi bidang akademis masing-masing. Penghargaan ini menegaskan peran Fatih dalam memacu diskursus yang bermakna dan membentuk masa depan riset ilmu sosial.   Proses seleksi yang dilakukan oleh measuresHE dikenal karena metodologinya yang ketat dan canggih. Faktor-faktor utama penilaian meliputi; Research Gravitas, sebuah analisis jaringan yang mengidentifikasi pemimpin intelektual sejati, serta Olympic Mean, yang mengesampingkan pencapaian kebetulan (outliers) demi mengungkap kualitas riset yang konsisten dan berkelanjutan. Selain itu, pemeringkatan ini menerapkan Interaction Credit untuk memberi penghargaan pada kolaborasi substantif, guna memastikan bahwa apresiasi ini mencerminkan kontribusi individu yang nyata dan integritas akademik. Menanggapi pencapaian ini, Fatih menekankan pentingnya kualitas daripada kuantitas dalam dunia akademik modern.   "Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi. Hanya ada 4 author dari Indonesia yang masuk dalam kategori ini di bidang Social Sciences, dan saya Alhamdulillah salah satunya." ujarnya.   Sebagai penulis dan peneliti, Fatih tetap berkomitmen untuk memajukan hukum, serta menjembatani celah antara kerangka teoretis dan solusi praktis di tingkat global. Pencapaian ini tentu menjadi modal berharga, baik bagi Fatih maupun institusi, untuk semakin melebarkan kiprahnya di tingkat global (saf/gemini)

Sholahuddin Al-Fatih0 menit
Hukum

Mahasiswa UMM melakukan kegiatan sosialisasi terkait SPP-IRT

pada hari Selasa 11 November 2025 Mahasiswa UMM dari Fakultas Hukum melakukan sosialisasi SPP-IRT kepada Masyarakat yang memiliki usaha dibidang pembuatan snack atau oleh oleh di Malang yang dimana dalam konteks olahan rumah tangga, salah satunya kepada Bapak Irfa'i. Bapak Ir’fai salah satu pembuat olahan rumah tangga yang telah berjalan hampir 20 tahun yang dibuatnya yaitu aneka macam keripik. Dan juga bapak Irfa’I  berkedudukan di Jalan Margobasuki gang 07 Ulil Absor Kota Malang. yang dimana Mahasiswa UMM beranggotakan 4 orang untuk penyuluhan pentingnya pendaftaran SPP-IRT untuk produksi ruma tangga. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat produktif selain salah satu tugas yang diberikan oleh kampus melalui salah satu program pembelajaran  wajib kampus kegiatan ini juga dapat membangun minat warga masyarakat untuk mengetahui bahwa adanya pendaftaran SPP-IRT untuk olahan rumah tangganya.  SPP-IRT sendiri diatur dalam Undang Undang BPOM Nomor 4 Tahun 2024 dan kegunaan SPP-IRT sendiri yaitu untuk memastikan keamanan pangan dari usaha rumahan.

Khabib Fatkhur Rizqy2 menit